Log in

Forgot password

Or

Have no account yet? Sign up

Search

Kekeringan Terparah Di Singa Dan Aroanop, 54 Ton Beras Disiapkan Untuk Warga

Kepala Distrik Tembagapura, Richard Dev Tatiratu (Foto: Istimewa)

Timika, Kabarkampung.id – Dampak kekeringan akibat El Nino turut dirasakan masyarakat di wilayah Distrik Tembagapura, Kampung Singa dan Aroanop disebut menjadi wilayah yang paling terdampak, bahkan warga mulai kesulitan mendapatkan air dan bahan makanan.

Kepala Distrik Tembagapura, Dev Richard Tatiratu, mengatakan kekeringan tidak hanya terjadi di Singa dan Arwanop, tetapi juga dirasakan masyarakat di Banti. Namun, kondisi terparah terjadi di dua wilayah tersebut.

“Dampak El Nino ini akhirnya beberapa wilayah mengalami masalah yang sama, kekeringan. Untuk Distrik Tembagapura, tidak hanya di Singa dan Arwanop, termasuk juga Banti. Namun yang lebih terdampak adalah Kampung Singa dan Arwanop,” ujar Tatiratu.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Mimika telah menginstruksikan penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak.

Tatiratu menyebut sekitar 54 ton beras beserta minyak goreng telah disiapkan untuk didistribusikan ke masyarakat Singa dan Arwanop.

“Untuk bantuan Singa dan Arwanop itu ada sekitar 54 ton beras dengan minyak goreng yang akan didistribusikan,” katanya.

Menurut Tatiratu, distribusi bantuan ke wilayah Tembagapura memiliki tantangan tersendiri karena kondisi geografis. Sejumlah kampung berada di pegunungan dan lembah dengan akses yang sulit.

Bahkan, warga dari beberapa kampung harus berjalan kaki hingga delapan jam atau satu hari hanya untuk mengambil bahan makanan.

“Contoh dari Miniponogoma, mereka harus turun ke bandara untuk mengambil beras. Itu bisa makan waktu satu hari mereka jalan kaki,” jelasnya.

Karena itu, pihak distrik tengah berkoordinasi agar bantuan dapat dikirim menggunakan helikopter dan diturunkan langsung di kampung-kampung terdampak.

Tatiratu berharap bantuan tidak hanya dikirim ke satu titik, tetapi dapat menjangkau langsung masyarakat yang membutuhkan.

“Kalau bisa kendaraan maskapai yang dipakai atau helikopter itu bisa sampai kepada kampung-kampung langsung, supaya barangnya langsung diturunkan di sana dan masyarakat tidak perlu berjalan jauh,” ujarnya.

Tatiratu mengatakan kondisi masyarakat di Singa dan Aroanop saat ini cukup memprihatinkan. Kekeringan membuat lahan pertanian warga mengalami kerusakan sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan bahan pangan dari kebun mereka.

“Mereka sampai sekarang bertahan dengan sayur-sayur yang ada. Mereka sudah tunjukkan bahwa lahan mereka terbakar karena kekeringan, daun ubi dan segala macam mati,” ungkapnya.

Ia mengatakan pemerintah distrik telah meminta masyarakat bersabar dan memastikan bantuan segera didistribusikan dalam pekan ini.

“Saya sudah sampaikan mereka tolong bersabar. Dalam minggu ini kami segera mendistribusikan bantuan sesuai perintah dan petunjuk Bapak Bupati,” katanya.

Persoalan lain yang dihadapi pemerintah adalah tingginya biaya transportasi udara menuju wilayah terdampak.

Tatiratu mengatakan, satu kali penerbangan helikopter menuju wilayah atas membutuhkan biaya sekitar Rp42 juta, namun kapasitas angkutnya hanya sekitar 15 karung beras.

“Helikopter satu kali naik ke atas itu Rp42 juta, baru cuma bawa 15 karung. Sedangkan mereka punya 54 ton yang harus kita kirim,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah tersebut baru bantuan yang disiapkan dari distrik, belum termasuk bantuan dari BPBD maupun Dinas Sosial.

Sementara itu, kondisi masyarakat di Banti mulai mendapat penanganan melalui dukungan PT Freeport Indonesia.

Tatiratu menjelaskan, terdapat sumber air di Sungai Wanagon yang masih cukup baik. Pihak perusahaan kemudian memasang pompa berkapasitas besar untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat.

“Kalau Banti karena dia di area perusahaan, ada Sungai Wanagon yang sangat jernih. Freeport sudah turunkan alat dan memasang water pump yang besar sekali,” katanya.

Dengan dukungan tersebut, kebutuhan air masyarakat di Banti, Banti 1, Banti 2 hingga wilayah Kimbeli mulai dapat terpenuhi.

Atas dukungan tersebut, Tatiratu menyampaikan apresiasi kepada manajemen PT Freeport Indonesia yang telah membantu penyediaan air bagi masyarakat.

“Atas nama pemerintah daerah di Tembagapura, kami mengucapkan terima kasih kepada manajemen PT Freeport yang sudah mendukung air untuk wilayah Banti,” pungkasnya.